Tuesday, March 28, 2006

Budaya

by Goenardjoadi Goenawan


Kemarin Pak Daya baru pulang dari merantau menjadi Kepala Kantor Cabang Amsterdam. Sudah 7 tahun Pak Daya belum pulang dia kangen sama istrinya Budaya.
Dari airport dia masuk mobil. terus sopir taxi bilang charter Rp 200.000 ya. lho, khan ada argo?
Tidak bisa pak ini sudah menjadi Budaya. semua juga gitu kok.
Terus di lampu merah, ketemu Pak Ogah, kiri-kiri, terus-terus, kasih seribu. Dulu cepek. Lho kok bayar?
Iya itu Budaya.
Pak Daya heran... kok banyak banget Budaya?
Terus orang-orang pada kemana? kok jalanan sepi? Ohh anu Pak, itu pada ke Ramayana dan Glodok, memborong pakaian dan alat elektronik, Kulkas, TV untuk dibawa ke kampung, khan sudah Budaya.. ini Lebaran Pak, Lebaran itu Telasan, habis-habisan, sudah Budaya kok.
Sampai di perempatan jalan, sepeda motor jalan terus padahal lampu merah. Lho kok jalan terus? Itu Budaya Pak.
Sampai di rumah, disambut istrinya... Bapak aku kangen, cium pipi kiri-kanan. Ayo masuk pak, istirahat dulu...
Ini teh hangat, apa perjalanan capek Pak 17 jam dari Amsterdam?
Begini lho bu...
Ibu itu untuk apa aja kok nyuruh orang Taksi tidak pakai Argo, nyuruh orang narik bayaran di perempatan, nyuruh Lebaran, Telasan, habis-habisan, nyuruh speda motor jalan terus padahal lampu merah, katanya disuruh Budaya...
Kok kamu nyuruh begitu?

***
prepared by MTA

0 Comments:

Post a Comment

<< Home