Tuesday, March 28, 2006

Kesempatan Lewat Setiap Hari

by Goenardjoadi Goenawan


Tidak jarang orang mengeluh, "Saya sebenarnya bisa maju, tapi belum punya kesempatan seperti si A atau si B. Kalau saya punya kesempatan seperti mereka, saya juga bisa maju!".
Padahal kesempatan berkelebat di depan matanya setiap hari. Malah kadang-kadang, kesempatan itu sampai mengetuk pintu rumahnya, minta dibukakan. Tidak jarang juga, kesempatan datang melalui pintu belakang.
Sayang, banyak orang tidak mampu mendeteksi keberadaan
sang kesempatan.
Bung, hidup ini terdiri dari kombinasi bermiliar interaksi antar manusia. Jaringan yang terjalin antar manusia, akan menciptakan miliaran kombinasi. Kita hidup di Indonesia, dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta jiwa. Bisa dibayangkan, berapa kombinasi yang tercipta. Orang lain yang tinggal di Singapura, dengan jumlah penduduk 3,5 juta jiwa saja, mampu memanfaatkan kombinasi interaksi tersebut. Mengapa kita tidak?
Suatu hari, Anda bersua dengan teman lama dari SMU.
Bercerita, berbagi pengalaman, pengetahuan dan niat baik. Lain hari, bertemu dengan orang baru.
Masing-masing punya keunikan, punya berbeda kebutuhan.
Siapa tahu dari mereka muncul inspirasi, datang peluang, atau menghasilkan jalan keluar. Syaratnya, otak kita dipenuhi dengan prasangka positif dan niat baik.
Sayang, otak seringkali dipenuhi dengan rasa curiga.
Coba contoh anak kecil, ketika mendapatkan sepotong roti, tanpa pikir panjang, langsung habis dilahapnya.
Tapi kalau sekarang Anda mendapatkan sepotong roti serupa, apakah langsung Anda makan? Tunggu dulu.
Jangan-jangan ada racunnya. Ah nanti ada formalinnya.
Wah bagaimana kalau banyak bahan kimianya. Otak dipenuhi rasa curiga.
Oleh karena itu, gunakan hati nurani masing-masing untuk melihat "roti-roti" kehidupan. Allah mengajarkan, "Ketuklah maka pintu akan dibukakan".
Sudah berapa kali Anda mengetuk pintu hati orang lain?
Entah berapa kali Anda melewatkan kesempatan di depan mata?
Telah berapa kali Anda membiarkan mimpi-mimpi masa depan menjadi sebatas impian?
Allah memberi jalan yang sama kepada setiap manusia.
Namun manusia seringkali terlalu dipenuhi dengan perasaan benci, dendam, malu, rasa bersalah, dan kurang perasaan kasih.
Kalau dua orang membaca koran yang sama, pasti apa yang dilihatnya berbeda-beda. Yang satu melewatkan berita yang lain. Kesempatan pun demikian. Dia ada dimana-mana. Banyak. Lalu bagaimana agar kesempatan yang ada bisa segera ditangkap. Ok, mari kita mulai dengan sebuah latihan:
Apa yang sedang Anda pikirkan saat ini?
Mikir... kosong, mikir... cewek, mikir... tagihan kartu kredit.
Apa yang Anda pikirkan saat ini tergantung dari ketajaman hati nurani.
Mungkin Anda berpikir, "Kasihan temanku sudah 3 tahun lulus sarjana masih belum kerja". Atau, "Kasihan anak tetanggaku kelaparan 3 hari belum ketemu nasi.
Perutnya keroncongan perih, mules, lemes, hidungnya meler, matanya kosong".
Apa isi pikiranmu?
Kalau isinya, "Aku lapar nih, belum makan, mau cari rokok". Berarti Anda hanya menggunakan kekuatan fisik semata. Tidak memanfaatkan hati nurani.
Kedua,
Cobalah minum air putih. Minum Aqua botol plastik, lalu minum Aqua botol gelas. Ada bedanya? Cari bedanya! Gunakan hati yang terdalam.
Bahwa rejeki di dunia ini berlimpah, kesegaran air minum, kesegaran oksigen di udara, sinar matahari yang melimpah, tanah yang subur, masyarakat yang sangat ramah, solidaritas masyarakat yang tinggi, anak-anak yang ceria bermain. Bahwa banyak yang harus disyukuri di dunia ini! Pasangan Anda memperhatikan hidup Anda, orang tua yang bijaksana tidak pernah berhenti mengurusi Anda, sahabat yang senantiasa ada di saat Anda membutuhkan.
"Ketuklah, maka pintu akan dibukakan" maka ketuklah pintu hati orang lain dengan hati kita yang bersih.
Bersih dari rasa:
benci
dendam
rasa besalah
malu
kekurangan rasa kasih
Itulah 5 emosi dasar manusia. Bila mampu dibersihkan, maka siap-siaplah menyambut kehadiran "hati nurani".
Dan Anda akan dengan mudah mengetuk pintu. Hati nurani yang tajam, akan membisikan kepada Anda banyak hal yang terlewat. Maka dengarkan bisikannya. Lama kelamaan, Anda akan memiliki kepekaan terhadap kebutuhan orang lain. Bukankah peka terhadap kebutuhan orang lain adalah esensi dari sebuah bisnis?
Negara kita boleh saja sedang dalam keadaan susah, ekonomi mandeg, investasi sulit, pengangguran meningkat. Apakah Anda harus ikut susah? Jangan.
Banyak pengangguran artinya banyak orang butuh pekerjaan. Maka buatlah bursa kerja. Atau bikin balai latihan kerja, dsb. Kalau ada orang sedang kesulitan menanamkan investasinya, beri mereka jalan keluar.
Coba tawarkan investasi waralaba misalnya.

Semua kesempatan itu hanya bisa direngkuh oleh hati nurani. Sedangkan pikiran yang lain mungkin hanya pusing dengan tagihan kartu kredit!


***
prepared by MTA

0 Comments:

Post a Comment

<< Home