Tuesday, March 28, 2006

Management with Creativity - day 3

halo sahabat,.
Bagaimana ciri-ciri keadaan Pribadi yang tersesat dalam lingkaran dunia kerja (profesional)?
Contohnya:
1. Terjebak pada kerutinan.
Beberapa orang lebih menyukai pekerjaan yang sifatnya rutin. Memang efektifitasnya kelihatan meningkat, sangat rapi, sangat tekun, namun masalahnya bagaimana caranya keluar dari lingkaran kerutinan itu? karena lama-kelamaan kita bekerja bukannya menjadi semakin Kreatif namun semakin tumpul.
Rasanya kita semua terjajah oleh kebiasaan-kebiasaan kita, sungguh sulit mengubah kebiasaan kita. Rasanya kita menjadi terjebak pada Comfort zone.
Ada teman saya yang selama 10 tahun pada jabatan yang sama, dengan kebiasaan yang sama dengan pekerjaan dan cara yang sama. Akibatnya, kelihatannya kariernya mandeg. Dan ketinggalan oleh rekan-rekan lain yang masih muda.
2. Terjebak pada penghargaan.
Motivasi bekerja menjadi proses Reward & punishment.
Masalahnya, kalau reward menjadi pegangan utama.
Dengan segala cara dihalalkan, akhirnya menjadi economic animal. Tidak lagi memiliki hati nurani.
Akar dari semua ini adalah penjajahan Konsumerisme.
Setiap hari kita terjebak oleh dunia iklan, sungguh indah berkilau, menggiurkan. Akhirnya banyak orang terjebak untuk mengejar hal-hal yang fana. Setelah memiliki ini dan itu, tetap merasa dirinya kosong.
"Success but something is missing".
3. Terjebak pada Problem solving.
Kita semua sejak di sekolah kebanyakan diajarkan untuk Problem solving. Akhirnya terbawa terus ke dunia kerja, dan berbagai macam tools digunakan untuk sekedar problem solving. Padahal banyak hal di luar problem solving, contohnya inovasi, care, integrity, open mind, dll.
4. Terjebak pada lingkaran kekuasaan.
Rasanya waktu masuk ke dalam kantor, segera bulu kuduk merinding, teringat betapa kejamnya office politics.
Akibatnya energi terkuras, rasanya lemah, lesu, hilang gairah, kadang sampai menjadi impoten. Kekuasaan di satu pihak sangat menggairahkan dilain pihak, menusuk hati kita yang terdalam untuk tunduk pada kekuatan fisik, kekuatan hierarki, menghasilkan perasaan takut untuk mencoba.
"Itu diluar tanggung jawab dan urusanmu"
sungguh kalimat mantra yang seperti pedang bermata dua, di satu pihak melindungi kita, dilain pihak siap memotong leher kita sewaktu itu dilanggar.
Akhirnya dunia kerja membuat jebakan Area of Control yang menjadi lebih penting daripada Area of Concern.
Sungguh kesengsaraan bagi Kreatifitas.
5. Terjebak pada dikotomi Logika vs. Perasaan.
Sering kita dengar omongan, secara Feeling saya lihat ini bagus, sangat berpotensi, dan saya percaya 100% dengan anda, namun saya belum melakukan penilaian secara Logika.
Anda tipe orang Science, oleh karena itu janganlah terlalu menggunakan perasaan. Maaf saya orang ekonomi atau psikologi jadi kurang paham pemikiran secara logika, karena saya banyak mengandalkan perasaan.
Ada teman saya yang hidupnya terjebak oleh perasaan.
Setiap kali pertanyaannya "He love me, he love me not". Itu terus selamanya, hingga membuatnya merana.
Sesungguhnya, ada yang lebih tinggi daripada Logika berpikir dan Emosi. Keduanya bisa disatukan ke dalam jiwa kita, sehingga Logika bisa menjadi faktor penunjang Daya Eksplorasi jiwa kita. Daya imajinasi Jiwa kita. Keduanya Eksplorasi dan Imajinasi hanya mampu dikendalikan oleh Jiwa kita yang terdalam. Oleh karena itu, kita harus menggunakan cara untuk dapat mengaksesnya.
Kalau kita pikir, dalam suatu Perusahaan, apakah faktor yang terpenting? Operation, prosedur, sistem, konsep, leadership, kerangka kerja, atau apa?
Ynag terpenting dalam Organisasi adalah Spirit.
semangat. Untuk apa kita semua harus bekerja dari pagi pulang malam seumur masa kerja kita? Apa visinya? Apa Misinya?
Spirit atau semangat itulah yang menggerakkan suatu perusahaan menjadi hidup. Tanpa spirit, akan menjadi kosong, hampa, fana, hanya sebatas Target beserta alasan-alasannya untuk tidak tercapai.
Spirit, atau semangat yang mendasari pergerakan organisasi.
Misalnya contoh sekolah musik, sekolah vokal.
Untuk apa?
Untuk menjadi penyanyi profesional? Untuk menjadi artis? Untuk mengembangkan dunia seni? atau untuk mendapatkan uang?
Kalau jawaban anda yang terakhir, game over.
Perusahaan akan cepat selesai, atau bangkrut.
Namun pernahkah kita tahu, bahwa sekolah musik dan vokal melatih Karakter anak-anak untuk memiliki jiwa seni, sehingga menjadi perasaan halus, tidak cakar-cakaran, atau berantem, dan mampu bangga atas prestasi dan termotivasi untuk berani tampil?
Itulah spirit yang mendasari operasional perusahaan.
Oleh karena itu, Pribadi kita juga demikian, kita hidup tanpa Spirit, maka serasa menjadi economic animal semata. Hanya mengejar nafsu yang fana.
Akibatnya, kalau mengalami suatu problem, hambatan atau PHK misalnya perasaan menjadi kosong, mata kosong pikiran kosong, dunia kosong.
Kita semua akhirnya terjebak pada Berhasil atau Gagal.

salam,
Goenardjoadi Goenawan
http://catatanseorangsahabat.blogspot.com/
Penulis buku "Menjadi Kaya Dengan Hati Nurani"
Penerbit: Elex Media Komputindo April 2006
http://swa.co.id/swamajalah/tren/details.php?cid=1&id=3195&pageNum=2

0 Comments:

Post a Comment

<< Home