Tuesday, March 28, 2006

Rejeki Datang Pada Saat Kita Memberi

Tulisan ini merupakan tulisan ke 16 dari "The Power of Least Effort" yang diposting ke milis Profesional Enterpreneur Club (PROFEC)

Rejeki Datang Pada Saat Kita Memberi
by Ir. Goenardjoadi Goenawan, MM.

Hidup sangat terasa berat, setiap hari beban terasa tidak lagi mampu kita panggul. Setiap orang tidak mau mengerti kita. Kita adalah orang paling tak beruntung dimuka bumi. Mengapa demikian? Karena kita memikirkan diri kita sendiri.
"Hidup akan terasa lebih mudah pada saat kita memikirkan orang lain. Dengan memikirkan orang lain, maka kita tidak lagi melawan dunia, tetapi merangkul dunia, dan kita membantu orang lain untuk mencapai tujuannya, dan oleh karena itu kita akan menjadi lebih baik. Rejeki datang pada saat kita memberi." Seperti kata Ben Renshaw, dalam bukunya Successful But Something is Missing, Daring To Enjoy Life To The Full, 2000, Random House, London.
"Alam mengajarkan, apa yang kamu berikan kepada alam akan kembali kepadamu," lanjut James.
"Bagaimana mungkin kita mengharapkan semua orang mau membantu kita, kalau diri kita tidak membantu orang lain? Banyak orang yang mengatakan, mereka yang menanam akan menuai. Darimana datangnya rejeki kalau kita tidak pernah menanamnya?" tanya James.
Kehidupan sejati bukanlah antara kita melawan Dunia.
Kadang timbul rasa
khawatir dalam hidup kita, mengapa kok hidup terasa sulit? Mengapa orang-orang kok tidak mau mengerti kita? Mengapa si anu kok dipromosi sedangkan saya yang lebih berpengalaman kok tidak?
Mengapa si anu kok
lebih berhasil sedangkan saya kok kurang?
Efek dari ambisi yang dilandasi oleh Ego adalah:
1. Kebanggaan terhadap achievement, akhirnya kebanggaan terhadap kekuasaan 2. Rasa khawatir bahwa dirinya tidak cukup bagus (not good enough) 3. Selalu timbul rasa tidak puas 4. Merasa hidup sebagai beban berat.
Seperti cerita wortel, telor dan biji kopi. Wortel menghadapi kehidupan (godokan air) yang tadinya kuat menjadi lemas, kehilangan semangat. Telor yang tadinya selalu pemaaf, menghadapi kerasnya kehidupan akhirnya menjadi terpengaruh, dan menjadi keras.
Tetapi biji kopi, mempengaruhi godokan air kehidupan dan menjadikan air harum dan nikmat.
Pada waktu itu, tergantung bagaimana Anda menghadapi hidup. Kalau di pikiran Anda adalah antara Anda melawan Dunia, tentu hal ini sulit.
Tetapi bila Anda masuk mengikuti arah Dunia berputar, segalanya terasa mudah. Kuncinya? Melayani orang lain.
Setiap orang di dunia ini memiliki rasa ingin berhasil. Dan pada saat yang sama memiliki problem.
Nah, kalau kita bisa memahami ini, maka setiap saat kita bisa melayani orang lain untuk memperoleh keberhasilan.
Dengan demikian, bukan memaksakan orang lain mengikuti Anda tetapi membuat mereka mencapai tujuannya mereka, dengan dibantu Anda.

salam.

***
prepared by MTA

0 Comments:

Post a Comment

<< Home