Thursday, April 06, 2006

Management with Creativity - day 4

halo teman2,.
apa akar dari semua persoalan yang membebani kita dalam dunia kerja (Profesional)?
ada 3 akar permasalahan yang mengakibatkan blunder dalam dunia kerja:
1. Konsep Industrialisasi sejak Henry Ford.
Sejak Henry Ford menemukan Industrialisasi, maka terjadi perubahan Era, dari Agriculture menjadi era Industry. Akibatnya management juga mengikuti peningkatan efektivitas karena pembagian tugas.
Ternyata seperti di pabrik-pabrik, ditemukan bahwa spesialisasi operation dan sistem kerja ban berjalan meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Hingga akhirnya terjadi robotisasi pabrik, dan robotisasi management.
Management menjadi sub-sub bagian yang terkotak-kotak, hingga membuat kita semakin terpenjara.
Kita senantiasa dibayangi oleh tembok Area of Control, istilahnya Wewenang dan tanggung jawab semakin terbatas.
Kalau ada permasalahan, kecenderungan pertama adalah:
"bukan bidang saya".
Masalahnya, semua bidang menganggap "itu bukan bidang saya". Akhirnya tidak ada yang mengambil tindakan apa-apa.
Manajemen menjadi kaku, dan seperti robot, bergerak sesuai dengan fungsinya, bahkan ada yang namanya tembok Berlin, bagian Produksi tidak boleh digabung dengan bagian Marketing (di industry televisi).
Bagian Merchandising tidak boleh digabung dengan bagian Marketing (di industry retail). Bagian reporter tidak boleh digabung dengan bagian Iklan (di industry Media massa).
Ini membuat kita semakin tidak bahagia, karena akar dari dunia kerja adalah Area of Concern. Dan ini selamanya ditekan terus, untuk memenuhi Area of Control.
2. Dengan adanya delegasi tugas yang terukur oleh Wewenang, dan tanggung jawab maka dunia kerja semakin membuat kita meninggikan Ego.
Setiap kali, dunia kerja selalu dimotivasi oleh performance oriented, dan semakin besar wewenang kita, semakin besar Ego kita, akhirnya kita merasa kosong.
Istilahnya, penyakit workalcoholic melanda kebanyakan Profesional.
Aneh, workalcoholic. Mengapa kok bisa kecanduan kerja? Mengapa ini menjadi jelek?
Sebetulnya, workalcoholic itu dilandasi oleh reward & punishment. Ketakutan akan punishment, mengakibatkan mau tidak mau, kita terpacu oleh stress yang sengaja ditimbulkan untuk meningkatkan prestasi.
Motivasi negatif ini, sifatnya sangat terbatas, oleh karena itu, perasaan stress selalu timbul. Dan akibatnya, kalau tidak bekerja, akan menjadi kosong, hampa, dan kehilangan, makanya timbullah workalcoholic.
Seharusnya, bekerja menjadi amanah atau pelayanan, dan kita dengan gembira dan damai tentram melaksanakannya, namun kerja menjadi suatu kebutuhan untuk Ego nafsu penghargaan yang berlebihan.
3. Pembagian tugas dan spesialisasi, membuat otak kita seamkin tumpul. Kita jadi malas berpikir. Bahkan bagian Business Development terjebak oleh ukuran-ukuran pembagian tugas, dan merasa kosong karena tidak memperoleh wewenang yang cukup.
Dunia Business Development yang seharusnya menjalankan fungsi Kreasi dan Inovasi, menjadi masalah Ego dan siapa diatas siapa?
Ini membuat lumpuh. Bagian Marketing berdebat dengan bagian Sales dan service Development. Siapa lebih unggul, Sales atau Marketing?
Ada Vice President Marketing membawahi National Sales Manager. Ada Sales & Marketing Director yang membawahi Marketing Manager.
Logika berpikir terbatasi oleh emosi yang terkotak-kotak, sehingga Logika berpikir menjadi mampat dan tidak berkembang, kekurangan unsur Explorasi dan Kreasi.
Setiap kali usul dari bagian Business Development dimentahkan oleh perang "kekuasaan". Daya pikir Kreasi dan Explorasi terblokir oleh emosi, dan perdebatan logika.
Bagaimana caranya supaya semua bagian tidak lagi terpenjara oleh Area of Control yang menyesakkan, dan terbelenggu oleh workalcoholic yang semu, dan perang "kekuasaan" mengakibatkan sabotase emosi sehingga membungkam daya Explorasi dan Kreasi?
semua itu harus ditelaah satu per satu.
setiap akar permasalahan harus dianalisa satu persatu.
Sesungguhnya, bila kita mampu menghilangkan barrier
pikiran:
1. Pikiran Rasa takut,
2. Rasa ragu-ragu
3. Rasa khawatir
4. Pikiran negatif,
maka kita sudah 50% memecahkan masalah. Selanjutnya bagaimana caranya mengisi pemikiran kita dengan performance booster.

salam,

Goenardjoadi Goenawan

http://catatanseorangsahabat.blogspot.com/
Penulis buku "Menjadi Kaya Dengan Hati Nurani"
Penerbit: Elex Media Komputindo April 2006
http://swa.co.id/swamajalah/tren/details.php?cid=1&id=3195&pageNum=2

0 Comments:

Post a Comment

<< Home